Senin, 08 Juni 2015

Perubahan Fisik Pada Ibu Hamil

Prinsip Terjadinya Kehamilan

1       Pembuahan / fertilisasi

2      Pembelahan sel (zigot) hasil pembuahan tersebut

3      Nidasi / implantasi zigot tersebut pada endometrium dinding cavum uteri

4      Pertumbuhan dan perkembangan zigot àembrio à janin menjadi bakal individu baru.

Tanda-Tanda Kehamilan



Tanda Subjektif

      Amenore (bermakna jika 3 bulan atau lebih)

      Keletihan

      Nyeri dan pembesaran payudara

      Morning sickness

      Quickening

Tanda Objektif

      Tanda Chadwick

      Braxton-Hicks

      Pembesaran uterus

      Tes kehamilan

      Tanda Goodell

      Tanda Piscaseck

      Tanda Hegar

      Ballottement

Tanda Pasti

      USG terdapat rangka janin

      DJJ

      Pemeriksa melihat dan merasakan gerakan janin

Perubahan pada Ibu Hamil

1       Sist. Reproduksi

2      Payudara

3      Berat Badan

4      Sist. Kardiovaskuler

5      Sist. Respirasi

6      Sist. Urinaria

7      Sist. Neurologi

8     Sist. Digestivus

9      Sist. Endokrin

1    Sist. Integumen

1      Sist. Muskuloskeletal

Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. Kebanyakan perubahan ini merupakan respon terhadap janin. Satu hal yang menakjubkan adalah hampir semua perubahan ini akan kembali seperti keadaan sebelum hamil setelah proses persalinan dan menyusui.

Adaptasi maternal yang meliputi adaptasi anatomi, fisiologi dan metabolisme sangat menentukan keberhasilan hasil kehamilan. Dengan mengetahui perubahan fisiologi kehamilan tersebut diharapkan tenaga kesehatan dapat mendeteksi perubahan yang bersifat patologis.



ANEMIA

Anemia merupakan suatu kondisi dimana sel darah merah tidak mampu untuk menyediakan oksigen yang cukup untuk tubuh.

Ada banyak jenis dan penyebab anemia.

Anemia defisiensi besi adalah suatu pengurangan butir-butir darah merah di dalam darah yang disebabkan oleh terlalu sedikitnya zat besi.

Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal

Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang darah, kadar sel darah merah (hemoglobin atau Hb) di bawah nilai normal

Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya zat besi, asam folat, dan vitamin B12(sianocobalamine). Tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi.

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup.

Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain.

Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi



Jenis Anemia







Interpretasi Gejala Anemia



Gejala Anemia Megaloblastik

      Hilangnya nafsu makan

      Diare

      Warna kulit pucat

      Lelah

      Sakit kepala

      Rasa sakit pada mulut dan lidah

      Perubahan warna kulit



RESPON PASIEN TERHADAP OBAT

RESPON PASIEN TERHADAP OBAT

Pendahuluan

Obat umumnya diberikan dalam dosis lazim
Bagi penderita lain, dosis lazim bisa menimbulkan efek toksik, atau tidak efektif
Berbagai faktor dapat mempengaruhi respons penderita terhadap obat

Kondisi Fisiologik

Anak
Faktor yang digunakan untuk menghitung dosis anak: usia, berat badan, luas permukaan tubuh (BSA)
Untuk perhitungan dosis, usia anak dibagi:
Neonatus (0-1 bulan)
Bayi (1 bl- 1 th)
Anak (1-5 th)
Anak (6-12 th)

Dosis dengan perhitungan BB dinyatakan dalam mg/kg. Perhitungan dosis anak berdasarkan BB sering terlalu kecil karena metabolisme anak lebih tinggi
Luas permukaan tubuh lebih tepat untuk menghitung dosis anak karena banyak fenomena fisik lebih erat hubungannya dengan luas permukaan tubuh.

Neonatus Dan Bayi Prematur

Pada usia ini terdapat perbedaan respon terutama disebabkan belum sempurnanya berbagai fungsi farmakokinetik tubuh, yakni:
Fungsi biotransformasi hati (terutama glukoronidasi dan hidroksilasi) yang kurang

Fungsi ekskresi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli) yang 60%-70% dari fungsi ginjal dewasa

Kapasitas ikatan protein plasma (albumin) yang rendah

Sawar darah-otak serta sawar kulit yang belum sempurna

Diperoleh kadar obat yang tinggi dalam darah dan jaringan
Terdapat peningkatan sensitivitas reseptor terhadap beberapa obat

Prinsip umum penggunaan obat pada neonatus dan bayi prematur:
n  Hindarkan penggunaan injeksi sulfonamid, aspirin, morfin, barbiturat

n  Untuk obat lain: gunakan dosis yang lebih rendah berdasarkan luas permukaan tubuh.

n  Tidak ada pedoman umum utk menghitung berapa besar dosis diturunkan, monitor respon farmakologinya

Usia lanjut
Penurunan fungsi ginjal merupakan perubahan faktor farmakokinetik terpenting
n  Perubahan filtrasi glomerulus 30% pada usia 65 th

n  Penurunan kapasitas metabolisme beberapa obat, berkurangnya albumin plasma, pengurangan berat badan, penambahan lemak tubuh

Perubahan faktor farmakodinamik
n   Peningkatan sensitivitas reseptor, terutama reseptor di otak

n   Adanya berbagai penyakit, banyak obat, risiko            interaksi obat


Prinsip umum penggunaan obat pada usia lanjut:

Berikan obat hanya yang betul-betul diperlukan

Pilih obat yang memberikan rasio manfaat-risiko yang paling menguntungkan dan tidak berinteraksi dengan obat lain

Mulai pengobatan dengan dosis separuh dari dosis lazim

Sesuaikan dosis obat berdasarkan respons klinik penderita

Berikan regimen dosis yang sederhana (idealnya 1x sehari) dan sediaan obat yang mudah ditelan

Penggunaan Obat pada Ibu Hamil

Obat dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada janin bila dikonsumsi pada masa kehamilan.

Ini harus diingat ketika akan memberikan obat pada seorang wanita yang berada pada usia subur.

Selama trimester pertama, obat bisa menyebabkan malformasi kongenital (teratogenik) dan resiko terbesar berada pada minggu ketiga sampai minggu kesebelas kehamilan.

Selama trimester kedua dan ketiga obat bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fungsional janin atau berakibat toksik pada jaringan janin.

Obat yang diberikan segera sebelum atau selama persalinan dapat memberikan efek samping merugikan terhadap persalinan atau pada bayi yang baru dilahirkan.



OBAT-OBAT GOLONGAN DIURETIK

OBAT-OBAT
GOLONGAN DIURETIK

Golongan diuretik

diuretik golongan tiazid

diuretik kuat

diuretik hemat kalium

diuretik osmotik

diuretik penghambat enzim anhidrase karbonik

kombinasi diuretik

Diuretik golongan tiazid

Tiazid dan senyawa-senyawa terkaitnya merupakan diuretik dengan potensi sedang
Bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi natrium pada bagian awal tubulus distal.

Onset kerja golongan ini setelah pemberian peroral lebih kurang 1-2 jam, sedangkan masa kerjanya 12-24 jam.

Lazimnya tiazid diberikan pada pagi hari agar diuresis tidak megganggu tidur pasien.
Diuretik tiazid digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal jantung dan dengan dosis yang lebih rendah, untuk menurunkn tekanan darah


Hidroklortiazid/HCT (Kategori C)

Indikasi: edema, hipertensi

Peringatan: dapat menyebabkan hipokalemia, memperburuk diabetes dan pirai, mungkin memperburuk SLE (eritema lupus sistemik), usia lanjut, kehamilan dan menyusui, gangguan hati dan ginjal, porfiria.

Kontraindikasi: hipokalemia yang refraktur, hiponatremia, hiperkalsemia, gangguan ginjal dan hati yang berat, hiperurikemia yang simptomatis, penyakit addison.

Efek samping: hipotensi postural dan gangguan saluran cerna yang ringan, impotensi (reversibel), hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremi, hiperkalsemia, hiperglikemi, peningkatan kadar kolesterol plasma.

Dosis: edema, dosis awal 12,5-25 mg sehari, untuk pemeliharaan jika mungin dikurangi, edema kuat pada pasien yang tidak mampu untuk mentoleransi diuretik berat, awalnya 75 mg sehari.

Hipertensi, dosis awal 12,5 mg sehari, jika perlu tingkatkan sampai 25 mg sehari
Usia lanjut. Pada pasien tertentu dosis awal 12,5 mg sehari mungkin cukup.
Bentuk sediaan: Hidroklortiazid (Generik) tablet 25 mg

Diuretik Kuat

Diuretik kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagal jantung kiri.

Diuretik ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama.

Diuretik kuat menghambat resorpsi cairan dari loop henle asending dalam tubulus ginjal dan merupakan diuretik yang kuat.

Hipokalemia dapat terjadi, dan perlu hati-hati untuk menghindari hipotensi

Furosemid (Kategori C)

Indikasi: edema, oligouri karena gagal ginjal

Peringatan: kehamilan dan menyusui, dapat menyebabkan hipokalemia dan hiponatremia, memperburuk diabetes melitus dan pirai, gagal hati, pembesaran prostat, porfiria.

Kontraindikasi: keadaan pra koma akibat sirosis hati, gagal ginjal dengan anuria
Efek samping: hiponatremia, hipokalemia dan hipomagnesia, ekskresi kalsium meningkat, hipotensi, gangguan saluran cerna.

Diuretik Osmotik

Diuretik golongan ini jarang digunakan pada gagal jantung karena mungkin meningkatkan volume darah secara akut.

Mannitol digunakan pda edema serebral
Dosis khasnya 1 g/kg sebagai suatu larutan 20% yang diberikan lewat infus iv yang cepat

Kombinasi Diuretik

Kombinasi antara satu golongan diuretik dan golongan diuretik yang lain

Menghindari kekhawatiran terjadinya hipokalemia dan ketidakpatuhan pasien

Sering digunakan untuk kasus hipertensi

Perlu diperhatikan dosis tiazid, dianjurkan memberi dosis rendah dulu